melakukan monobrata saat siwaratri

Monobrata

Melakukan monobrata berarti memutuskan hubungan dengan lingkungan untuk sementara. Model mabrata seperti ini, banyak manfaat yang bisa diambil.
Hampir setiap hari masyarakat disibukkan dengan berbagai aktivitas. Berbagai motivasi pula telah membentuk karakter manusia tersebut, sehingga kadang melupakan kaidah dan norma agama. Soal harta misalnya, orang seperti berlomba untuk mendapatkannya. Segala cara dilakukan, bahkan tanpa sadar mereka telah melanggarnya. Untuk mendapatkan kenikmatan sesaat yang sifatnya duniawi ini telah menyeret masyarakat semakin jauh dengan Tuhan-nya. Jangankan memikirkan karma yang akan didapatkannya kelak, hukum yang mengatur kehidupan duniawinya pun kerap dilanggar.
Di zaman Kali– begitu tokoh-tokoh  agama menyebut keadaan sekarang ini–, manusia sepertinya telah kehilangan akal sehat, meski tak sedikit yang masih mengikuti rel-rel kehidupan sesuai dengan agama.
“Perlu ada instropeksi dan pengendalian diri secara mendalam,” ujar Pengasuh Ashram Gandi Puri Brahmacarya Indra Udayana.
Bagaimana cara melakukannya? Indra Udayana mengatakan cara yang sangat simpel. Cukup dengan meninggalkan rutinitas dan semua atribut berupa teknologi yang biasa digunakan, seperti ponsel dan alat komunikasi lainnya. “Dan, mungkin akan lebih mendukung bila kita melakukannya di suatu tempat yang agak jauh dari keramaian,” terangnya, seraya menyarankan untuk mencoba meninggalkan segala kesibukan untuk sehari saja.
Tujuannya, tak lain untuk mengistirahatkan pikiran, agar tidak selalu dipenuhi oleh berbagai aktivitas. Dari sinilah akan didapatkan ketenangan jiwa dan waktu cukup untuk memikirkan secara mendalam apa yang telah kita perbuat untuk kehidupan ini.
Mencoba melaksanakan Monobrata, merupakan pilihan yang bagus, meski terbilang cukup berat. Esensi pelaksanaan Monobrata, yakni  suatu cara untuk mengendalikan perkataan dengan tidak bicara selama waktu tertentu.
Mono (mona) artinya berdiam diri tidak bicara. Mono bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa bicara dengan penuh pengendalian, sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mono  juga berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian. Sehabis sembahyang atau meditasi dan japa, lanjutnya,  biasakan melakukan mono atau membatasi berbicara. Hal ini akan bermanfaat untuk memberikan kesempatan pada berkembangnya ‘energi positif’ untuk menggeser ‘parasit energi’. “Energi positif dalam diri akan dapat memberikan kita kesehatan, ketenangan, dan kesucian,” terangnya.
Mengenai pelaksanaan tiga brata ini bisa dilihat dalam kisah Lubdaka, yang melakukan jagra (begadang), monobrata, dan upawasa, saat malam Siwaratri. Dalam Nitisastra disebutkan : Wasita nimittanta manemu laksmi, Wasita nimittanta pati kapangguh, Wasita nimittanta manemu dukha, Wasita nimittanta manemu mitra. Artinya : Oleh perkataan engkau akan mendapat bahagia, oleh perkataan engkau akan menemui ajal, oleh perkataan engkau akan mendapatkan susah, oleh perkataan engkau akan mendapat sahabat.
Jadi, dapat diartikan, semua akibat yang didapat dalam kehidupan bisa disebabkan oleh perkataan. Disinilah bisa dilihat betapa perlunya melakukan Monobrata. Dan, perlunya melakukan pengendalian diri serta indria yang selama ini seolah telah menyetir dan menguasai hidup manusia.  Ditambahkannya, Monobrata tak hanya mengendalikan kata-kata, tapi seyogyanya menghentikan komunikasi dengan dunia luar, tanpa menghentikan komunikasi dengan Tuhan. Sehingga pikiran tak menjelajah pada ruang-ruang rumit untuk sementara waktu.
Soal waktu,  tokoh umat yang juga dosen STAH Negeri Denpasar
Drs I Gede Rudia Adiputra MAg, mengatakan, hari yang  tepat untuk  melakukan Monobrata saat Siwaratri dengan bercermin pada kisah Lubdaka.  ”Brata yang utama dalam Siwaratri yaitu monobrata,” ucapnya. Monobrata bisa dilakukan  menyendiri, usahakan agar pikiran tak terpengaruh secara fisik. ”Sebab, bila pikiran terpengaruh dengan kehidupan luar, maka pelaksanaan brata hasilnya akan minimal,” katanya. Dikatakan hasil yang minimal, karena menurut Rudia tak ada istilah gagal dalam melakukan brata. Contoh hal-hal kecil yang dapat menyebabkan batalnya pelaksanaan Monobrata yaitu lingkungan dan teknologi. Sebab, bila saat melakukan brata, komunikasi bisa saja tetap berlangsung, meski hanya dengan bahasa isyarat. ”Kalau ada yang memanggil tak ditanggapi, tentu akan menyebabkan akibat kurang baik. Oleh karenanya kita perlu melakukan ini  menyendiri,” urainya. Sedangkan teknologi yang bisa menggangu, misalnya saja fasilitas SMS (Short Message Service). ”Brata baru bisa dikatakan berhasil bila telah berdampak pada kehidupan manusia tersebut.  Sebab, Monobrata salah satu langkah awal untuk mengendalikan tutur kata manusia dalam kehidupan sehari-hari,” .

Dharma Shanti 2009

Om Swastyastu,

berhubungan akan diadakannya Dharma Santhi bersama pada tahun 2009 ini. Kita UKM KMH Binus menjadi salah satu anggota yang tergabung menjadi panitia dari 12 UKM yang ikut dalam kegiatan Dharma Shanti bersama ini, dimana kita di tugaskan sebagai seksi Humas dan publikasi dokumentasi. khususnya di bidang dokumentasi seluruh anggota KMH Binus berkecimpung disana. Untuk rapat pleno akan diadakan pada hari minggu, 18 januari 2009 di Pura Aditya Jaya Rawamangun pukul 10.00 wib sampai selesai. dimana agenda yang akan di bahas pada saat itu mengenai :

Agenda Rapat:

1. Pembahasan hari pelaksanaan acara tanggal 3 Mei 2009 mengingat rekan-rekan dari STIS akan melaksanakan ujian semester pada 4 Mei 2009.

2. Perubahan susunan kepanitiaan mengingat ada rekan-rekan UKM yang baru bergabung serta berkaitan dengan keputusan agenda poin 1.

3. Penyampaian hasil pertemuan dengan Bapak Erata.

4. Pembahasan progress dan rencana kerja masing-masing seksi.

5. Pembahasan anggaran masing-masing seksi.

6. Penandatanganan lembar persetujuan proposal oleh masing-masing ketua UKM.

7. Agenda tambahan lainnya sesuai kondisi.

8. Rapat koordinasi masing-masing seksi.

untuk lebih lanjutnya silahkan kunjungi

http://kmh-sejakarta.blogspot.com/

susunan kepanitiaan dapat di lihat disini

Om Santih Santih Santih Om

Merendah itu indah

Di satu kesempatan, ada turis asing yang meninggal di Indonesia. Demikian baiknya turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan kesempatan untuk memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya meninggal di Indonesia, dan sudah teramat sering ditipu orang, maka iapun meminta untuk melihat dulu baik surga maupun neraka. Ketika memasuki surga, ia bertemu dengan pendeta, kiai dan orang-orang baik lainnya yang semuanya duduk sepi sambil membaca kitab suci. Di neraka lain lagi, ada banyak sekali hiburan di sana. Ada penyanyi cantik dan seksi lagi bernyanyi. Ada lapangan golf yang teramat indah. Singkat cerita, neraka jauh lebih dipenuhi hiburan
dibandingkan surga.

Yakin dengan penglihatan matanya, maka turis tadi memohon ke Tuhan untuk tinggal di neraka saja. Esok harinya, betapa terkejutnya dia ketika sampai di neraka. Ada orang dibakar, digantung, disiksa dan kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya. Maka proteslah dia pada petugas neraka yang asli Indonesia ini. Dengan tenang petugas terakhir menjawab : ‘kemaren kan hari terakhir pekan kampanye pemilu”. Dengan jengkel turis tadi bergumam : ‘dasar Indonesia, jangankan pemimpinnya, Tuhannya saja tidak bisa dipercaya!’.

Anda memang tidak dilarang tersenyum asal jangan tersinggung karena ini hanya lelucon. Namun cerita ini menunjukkan, betapa kepercayaan(trust) telah menjadi komoditi yang demikian langka dan mahalnya di negeri tercinta ini. Dan sebagaimana kita tahu bersama, di masyarakat manapun di mana kepercayaan itu mahal dan langka, maka usaha-usaha mencari jalan keluar amat dan teramat sulit.

Jangankan dalam komunitas besar seperti bangsa dan perusahaan dengan ribuan tenaga kerja, dalam komunitas kecil berupa keluarga saja, kalau kepercayaan tidak ada, maka semuanya jadi runyam. Pulang malam sedikit, berujung dengan adu mulut. Berpakaian agak dandy sedikit mengundang cemburu.

Di perusahaan malah lebih parah lagi. Ketidakpercayaan sudah menjadi kanker yang demikian berbahaya. Krisis ekonomi dan konglomerasi bermula dari sini. Buruh yang mogok dan mengambil jarak di mana-mana, juga diawali dari sini. Apa lagi krisis perbankan yang memang secara institusional bertumpu pada satu-satunya modal : trust capital.

Bila Anda rajin membaca berita-berita politik, kita dihadapkan pada siklus ketidakpercayaan yang lebih hebat lagi. Polan tidak percaya pada Bambang. Bambang membenci Ani. Ani kemudian berkelahi dengan Polan. Inilah lingkaranketidakpercayaan yang sedang memperpanjang dan memperparah krisis.

Dalam lingkungan seperti itu, kalau kemudian muncul kasus-kasus perburuhan seperti kasus hotel Shangrila di Jakarta yang tidak berujung pangkal, ini tidaklah diproduksi oleh manajemen dan tenaga kerja Shangrila saja. Kita semua sedang memproduksi diri seperti itu.

Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja : bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.

Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, ‘seperti sentimen, benci, dan sejenisnya ‘, menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya, mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif ‘sabar, tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya’ menempatkannya sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman halaman rumah yang
memerlukannya.

Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi demikian. Penyelesaian persoalan manapun ‘termasuk persoalan perburuhan ala Shangrila’ bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.

Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara
menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif, kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.

Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan
sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai pengkondisian yang mematikan.

Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan
yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana
pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang membuatnya demikian, karena laut berani merendah.

Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke
Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian untuk merendah.

Ada yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-
injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : ‘kita bertemu yang maha tinggi, ketika kita rendah hati’. ***

by Gede Prama

Purnama sasih kelima (Budha Cemeng Menail)

Om Swastyastu,

teman2 kmh sedharma, hari Rabu 12 NOvember 2008 kmh mu melakukan persebahyangan Purnama di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Temen2 yang mau ikut bisa langsung dateng (kumpul) di Plasa Syahdan (Kampus Syahdan) jam 4 sore. kita naik bus kampus.

Diharapkan banget keikutsertaan kalian, mari kita saling mengenal dan mengisi KMH dengan kegiatan2 yang lebih banyak lagi…

nb : inget bawa kain (kamen) ya…

Suksma,

Om Santih Santih Santih Om

Veda, bukan sekedar dongeng

Kemasyuran kitab suci Veda dan suplemen pendukungnya seperti Purana dan Itihasa tersebar di seluruh pelosok dunia. Hampir setiap ahli phylosofi mengakui bahwa kitab suci Veda sebagai karya sastra yang mempunyai nilai sastra yang sangat tinggi. Selain nilai sastra yang sangat tinggi, Veda juga mengandung ajaran ajaran yang mulia serta kekuatan rohani yang mampu menganugrahkan kekuatan spiritual kepada orang yang mempelajarinya berdasarkan garis perguruan yang dibenarkan. Seperti yang diuraikan di dalam Bhagavad Gita, evam parampara praptam, ajaran rohani ini hendaknya diterima melalui Parampara atau garis perguruan yang dibenarkan. Dengan meninjau keagungan kitab suci Veda ini, kita bisa menyimpulkan bahwa penulis atau penyusun kitab ini mesti bukan orang sembarangan. Bahkan jika seseorang menulis sebuah novel biasa, yang hanya terdiri dari ribuan lembar, orang tersebut sudah dianggap orang yang jenius di kalangan masyarakat umum sekarang ini, terus apa lagi menulis ribuan sloka yang diikat oleh berbagai aturan dan peraturan chanda seperti anustup dll yang tercantum di dalam kitab Veda, orang tersebut pasti mempunyai kecerdasan yang melampaui kecerdasan orang biasa.

Tentu saja, meyinggung tentang Veda serta Purana, khususnya kisah-kisah yang diuraikan di dalamnya, memang sangat sulit untuk kita cerna. Selain waktu kejadian yang diceritakan yang sangat lama sebelumnya, kisah-kisah tersebut juga menguraikan banyak hal yang kelihatannya dibuat-buat, seperti orang yang berkepala empat ( Deva Brahma ), senjata yang menggoncangkan seluruh alam semesta, bumi disembunyikan di bawah lautan dll. Semua hal ini sama sekali tidak masuk akal bagi pemikiran kita yang terbatas. Alasan pertama yang membuat seseorang meragukan kejadian ini adalah karena seseorang tidak pernah melihat ada orang yang berkepala empat, seseorang yang mampu mengangkat satu planet dengan tangannya dan kepribadian di bumi ini yang memiliki pengetahuan dan kekuatan untuk menciptakan alam semesta. Selain itu, menurut penelitian yang dilakukan secara modern, para ahli menyatakan bahwa berjuta-juta tahun yang silam, tidak ada kehidupan di bumi ini dan kehidupan baru dimulai sejak beberapa ribu tahun yang lalu. Semua pernyataan ini menyebabkan keraguan dan bahkan memberikan kesempatan kepada orang untuk menyatakan bahwa kisah-kisah yang diuraikan di dalam kitab Purana “hanya sekedar dongeng” yang digunakan untuk menyampaikan ajaran-ajaran kemanusiaan. Dengan demikian beberapa dari mereka menyimpulkan bahwa kitab Veda tidak bisa diakui kebenarannya secara mutlak”.

Hal yang sangat disayangkan lagi, bukan hanya para atheis atau dari agama lain yang berpendapat seperti itu, bahkan orang yang berkecimpung di dalam kehidupan rohani, yang menyatakan diri sebagai pengikut ajaran Veda sekalipun, karena kekurangan informasi yang jelas atau karena dibingungkan oleh pengaruh pengetahuan ilmuwan, berpendapat sama. Bukan bermaksud untuk mengecam pendapat mereka, tetapi sangat penting untuk mengerti dan mempertahankan kebenaran Veda yang merupakan kebenaran mutlak. Saya pernah membaca beberapa komentar di dalam Bhagavad Gita, dan beberapa wejangan Gita dimana mereka secara langsung menyatakan bahwa sebenarnya Pandawa dan Kaurawa itu tidak ada secara nyata tetapi hanyalah sekedar simbolik. Pandawa merupakan simbol dari lima indria dan Sri Krsna adalah indria keenam ( pikiran ) serta para Kaurawa merupakan musuh musuh di dalam diri kita yang bermunculan setiap saat. Kelihatanya sangat masuk akal, tetapi sebelum kita menerima pendapat seperti itu, kita mestinya berpikir lebih matang lagi.

Pertama-tama, kalau kita pikirkan, apakah para resi yang agung seperti Srila Narada Muni, Vyasa Deva, Sri Markandeya Rsi dan yang lebih dekat lagi, Sri Sankaracarya, Madhvacarya dll, sebagai orang yang memiliki kecerdasan yang melampaui orang biasa, akan berjuang keras untuk mempertahankan buku yang merupakan dongeng belaka?? Apakah orang secerdas Sri Vyasa, penyusun Veda beserta suplemen lainnya seperti Purana, Mahabharata dll, sudah tidak ada kerjaan sehinga menggunakan waktu mereka untuk menulis dan mendiskusikan dongeng seumur hidup mereka? Di dalam Maha Bhagavata Purana dinyatakan

tava katha-amritam tapta-jivanam

kavibhir iditam kalmasa-apaham

sravana-mangalam srimad atatam

bhuvi grinanti ye bhuri-da janah

“Oh Tuhan, Minuman kekekalan dari kata-kata Mu dan uraian dari kegiatanMu merupakan jiwa dan raga bagi mereka yang menderita di dunia material ini. Uraian-uraian tersebut diuraikan oleh orang-orang suci, menghancurkan segala reaksi dosa dan menganugrahkan kemujuran bagi mereka yang mendengarkannya. Kisah-kisah ini disebarkan di seluruh dunia dan penuh dengan kekuatan rohani. Sangat dipastikan bahwa mereka yang menyebarkan pengetahuan Ketuhanan ini adalah orang yang paling dermawan.

Dari uraian sloka ini, apakah sebuah dongeng akan mampu memberikan kekuatan rohani kepada para pembacanya dan menghancurkan reaksi dosa sang pembaca?? Logika dan contoh yang lebih konkrit lagi untuk mendukung bahwa kisah-kisah di dalam Purana bukan sekedar dongeng ialah sebagai berikut. Ada beberapa pawang ular yang masih ada di beberapa tempat di India. Dengan mengucapkan doa pujian yang memohon kehadiran Garuda, mereka mampu mengeluarkan racun dari gigitan ular yang sama sekali tidak bisa diobati oleh dokter di rumah sakit modern. Kami secara pribadi pernah melihat kejadian ini di daerah India Timur. Seorang teman saya yang saat ini tinggal di dekat Kalkuta, India bagian timur, digigit ular yang sangat berbisa sekitar 3 bulan lalu. Meskipun sudah dibawa ke beberapa dokter, namun tidak seorangpun mampu mengobati, tetapi ketika diajak ke seorang tabib yang hanya membaca mantra pujian, racun tersebut mengalir menuju ke luka bekas gigitan ular dan keluar dari dalam badannya. Setelah beberapa saat, teman saya ini terbebas dari racun ular tersebut. Dengan contoh ini, apakah sloka-sloka yang menguraikan suatu dongeng akan mempunyai kekuatan seperti itu? Kalau memang Garuda yang diuraikan di dalam Purana sebagai burung kendaraan Sri Visnu hanya sekedar dongeng, terus kenapa doa yang dipanjatkan untuk mengagungkan Garuda sangat ampuh untuk membebaskan seseorang dari racun ular. Dan di beberapa tempat di India Selatan, ada beberapa brahmana yang masih mampu mengucapkan mantra dengan tepat, dan dengan mengucapkan nama Garuda, mereka bisa mengusir ular ular di sekitar tempat mereka. Sudah tentunya, orang yang mengucapkan mantra tersebut harus berkualifikasi, yang telah dan masih menjalani aturan yang diuraikan di dalam sastra.

Lebih dari contoh di atas, orang mungkin masih meragukan hal ini karena berpendapat bahwa kita tidak melihat peninggalan-peninggalan dari jaman tersebut. Untuk menjawab argumen seperti tersebut, atas karunia yag maha kuasa, kita masih melihat beberapa tempat di daerah Bharata Bhumi yang masih ada sampai sekarang seperti Kuruksetra, Ayodya, Kasi dll. Di Kuruksetra, bahkan tempat dimana kakek Bhisma berbaring di atas anak panah masih ada dan ditandai dengan monumen yang kita bisa lihat sampai sekarang. Kemudian penjara dimana Sri Visnu ( Krisna ) muncul sebagai putra Vasudeva di Mathura, India bagian utara, masih ada sampai sekarang dan masih dikunjungi oleh ribuan peziarah setiap hari sejak ribuan tahun lalu. Sri Markandeya Rsi, yang diuraikan di dalam sastra pernah datang ke Bali dan membangun beberapa pura di sana dan sampai saat ini kita masih melihat pura-pura tersebut dan beberapa orang masih melihat keajaiban yang sering terjadi di pura-pura itu. Sampai hari ini, belum ada dongeng yang memperlihatkan keajaiban yang nyata seperti yang dialami oleh penduduk setempat di daerah pura-pura tersebut. Di Ayodya, tempat kelahiran Sri Ramcandra juga masih ada. Batu yang digunakan untuk mengikat Sri Krsna oleh Yasoda masih dipuja sampai sekarang di Vrndavana. Bekas-bekas istana Dvaraka, dimana para Dinasti Yadu tingal di kota yang terletak di atas lautan, ditemukan di dasar laut oleh beberapa peneliti. Di Bali, masih banyak peninggalan senjata-senjata yang sangat disakralkan yang mempunyai kekuatan gaib yang mampu menganugrahkan suatu kekuatan kepada seseorang untuk menyembuhkan dll. Dan masih banyak contoh peninggalan seperti itu di berbagai tempat khususnya di India.

Selain contoh yang diatas, kita juga bisa mengambil contoh yang sangat umum dikenal oleh masyarakat dunia. Ada sebuah batu besar yang terletak diatas sebuah bangunan kuil Deva Siva di Tanjur, India Selatan. Berdasarkan penelitian para ahli, ini merupakan suatu hal yang sangat mustahil untuk membawa dan menaruh batu sebesar itu di atas bangunan kuil dengan posisi seperti itu bahkan kalau mengunakan alat canggih sekalipun. Bagaimana cara untuk mengangkat batu tersebut masih misterius dan masih sangat sulit untuk dipercaya kalau ada orang yang bisa melakukan itu, tetapi kenyataannya, batu itu ada di sana. Silva sastra, kitab yang berkecimpung di dalam ilmu pembangunan dan patung, menjelaskan bahwa para pembangun yang telah menguasai ilmu pembangunan mampu membuat benda berat menjadi benda ringan dengan mengucapkan mantra. Dengan demikian, tidak hal yang sangat sulit untuk menaruh batu sebesar batu tersebut di atas.

Seseorang mungkin juga masih meragukan contoh yang masih berbau VEDA. Jadi contoh yang sangat sederhana dan sangat mudah dipahami oleh masyarakat umum adalah Piramida, salah satu dari keajaiban dunia, yang terletak di Ijib, Afrika Utara. Sampai saat ini tidak ada orang yang mampu memastikan bagaimana bangunan ini dibangun dan tidak ada orang yang mampu membangun bangunan yang seperti ini lagi. Karena saat ini kita tidak menemukan tukang yang bisa membangun bangunan seperti itu, maka kita dapat simpulkan bahwa tukang itu sebenarnya tidak ada. Dengan demikian ini hanya sekedar dongeng. Apakah benar ini hanya sekedar dongeng?Tentu saja tidak. Kalau manusia biasa mampu membangun bangunan yang ajaib seperti piramida ini, kenapa kita meragukan bangunan di surga yang diciptakan oleh Visvakarma, arsitek para deva, yang diuraikan di dalam Purana dan menyimpulkan itu semua hanya sekedar dongeng?

Jadi, karena kelihatannya suatu kejadian yang di luar pemikiran kita yang material ini, kita hendaknya jangan menyimpulkan bahwa kisah yang tercantum di dalam kitab Purana sebagai suatu khayalan atau dongeng. Di dalam kehidupan sehari-hari, kita melihat keagungan alam yang berada di luar jangkauan kita. Kalau kita tidak mampu menjangkau gerakan alam yang masih di depan kepala kita, bagaimana kita akan mampu menjangkau pencipta dari alam semesta tersebut dengan kemampuan kita? Indria yang tidak sempurna merupakan keterbatasan yang kita harus sadari dan terima. Untuk mengerti suatu hal yang lebih tinggi, kita mesti mendekati otoritas yang lebih tinggi. Veda dan semua suplemennya seperti Purana dan Itihasa merupakan sumber yang diberikan oleh otoritas yang lebih tinggi dan Veda menjelaskan bahwa kisah-kisah tersebut memang benar-benar terjadi. Seperti halnya seorang anak yang ingin tahu siapa ayahnya, dengan mengadakan penelitian berdasarkan ilmiah atau menebak orang yang kelihatan mirip, itu tidak akan pernah membuahkan hasil. Meskipun kalau membuahkan hasil, itu hanya akan makan waktu dan tenaga yang banyak. Tetapi kalau anak ini menerima kata-kata ibunya, yang secara pribadi mengetahui siapa yang memberikan benih pada kandungannya, maka itu merupakan otoritas tertingi. Sama halnya, kita yang berusaha untuk mengerti pergerakan alam beserta hukum dan isinya, kita harus mengacu pada otoritas yang lebih tinggi, yaitu sastra yang diberikan oleh mereka yang sudah mengalami atau melihat hal tersebut. Sastra Veda disebut dengan ”APAURUSEYA-SABDA” yang berarti Suara rohani yang tidak berasal dari orang biasa, tetapi oleh Tuhan sendiri melalui inkarnasiNya atau para utusanNya. Dengan demikian, tidak ada hal yang perlu diragukan lagi di dalam kitab suci Veda.

Om Namo bhagavate Väsudeväya

Om Tat Sat

source: http://cyberdharma.net/

Däsa Bhagiratha

Mengapa Beragama Hindu

I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P.), – Bekasi

Agama–agama memiliki persamaan dan perbedaan. Agama- agama pada dasar nya memiliki fungsi yang sama. Agama-agama memberikan kita jalan untuk berhubungan dengan diri kita sendiri dan untuk berhubungan dengan lingkungan, makhluk hidup dan alam di sekitar kita, yaitu etika dan moral. Agama- agama juga mewajibkan kita untuk menghormati hidup, hidup kita sendiri dan hidup orang lain.

Tapi bagaimana hubungan itu dilakukan, bagaimana kewajiban itu dilaksanakan, masing- masing agama memiliki cara serta aturannya sendiri. Tiap- tiap agama memiliki kitab sucinya sendiri, ajaran-ajarannya sendiri, ibadahnya sendiri, tokoh-tokoh nya dan sejarahnya sendiri. Bahkan pandangan mereka masing-masing tentang Tuhan juga berbeda. Inilah sebabnya mengapa ada agama Hindu, agama Buddha, agama Shinto, agama Kong Hu Chu, agama Tao, agama Islam, agama Kristen, dan agama Yahudi.

Pada umumnya agama Hindu atau orang Hindu karena sikapnya yang sangat toleran, lebih suka menekankan persamaan – persamaan agama. Namun kadang kala ini kan membawa kita pada suatu kesalahan lain yaitu mengabaikan aspek- aspek khusus dari masing – masing agama yang menjadi ciri khas dan identitas dari masing- masing agama tersebut. Adanya agama – agama tertentu percaya pada takdir dimana nasib manusia sepenuhnya telah ditentukan oleh Tuhan. Agama Hindu percaya pada hukum karma dimana nasib manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri. Ada agama yang percaya manusia hanya hidup sekali, setelah mati, menunggu hari kiamat. Pada saat itu manusia dibangkitkan kembali untuk diadili. Agama Hindu percaya akan adanya reinkarnasi dimana manusia lahir kembali, diberikan kesempatan untuk menyempurnakan dirinya.

Perbedaan antar agama adalah suatu fakta yang harus diketahui. Agar kita tidak mencampuradukkan agama. Ibarat orang bertetangga, pagar yang baik atau tanda batas yang tegas justru akan mencegah tetangga itu bertengkar, perbedaan bukan untuk dipertengkarkan tapi untuk saling memperkaya wawasan.

Beberapa kelompok orang menggolongkan agama menjadi dua katagori atau dua kelompok, yaitu agama langit dan bumi. Ada yang menggolongkan menjadi agama hukum dan agama pembebasan. Ada penggolongan agama berdasarkan wilayah asal kelahiran agama- agama tearsebut. Kecuali penggolongan yang terakhir, dua penggolongan sebelumnya bersifat sangat subyektif . Setiap pemeluk agama dapat membuat penggolongan berdasarkan ukuran-ukuran yang ditetapkannya sendiri dengan maksud menempatkan agamanya pada kedudukan yang paling tinggi. Penggolongan agama langit atau dapat juga disebut “ Samawi ” katanya agama yang dibentuk berdasarkan wahyu Tuhan. Agama bumi atau agama alamiyah katanya berdasarkan renungan manusia. Siapa saja dapat mengatakan bahwa agamanya adalah agama wahyu sedangkan agama orang lain adalah agama buatan manusia. Agama Hindu bukanlah agama dogmatik, agama Hindu adalah agama yang terbuka , artinya keyakinan – keyakinan Hindu dapat ditafsirkan sesuai dengan semangat zaman. Agama- agama yang dogmatik sangat menekankan kepada “ Iman” yang bersifat dogma, yang harus dipercayai begitu saja, sekalipun tidak dapat dipahami dengan akal. Agama Hindu adah agama yang menekankan pada amal, perbuatan – perbuatan yang baik dan benar. Agama dogmatik bisa membuat manusia memisah antara ibadah dengan perbuatan. Agama Hindu menyatukan keyakinan dengan perbuatan , iman dengan amal.

Keyakinan dan ibadah itu harus tercermin dalam tingkah laku sehari-hari. Orang yang beragama dituntut untuk bertingkah laku pantas di masyarakat. Agama dogmatik cenderung menimbulkan fanatisme buta. Biasanya hal ini membuat suatu pengertian bahwa agamanya sendiri yang benar, agama orang lain salah. Agama Hindu, karena menekankan pada amal, bersifat sangat toleran. Agama Hindu menghormati kebenaran dari manapun datangnya. Kita tidak mungkin mengetahui agama seseorang hanya dengan melihat tingkah laku atau sikap hidupnya. Tapi seorang Hindu wajib mencerminkan ajaran- ajaran Hindu dalam kehidupannya. Untuk dapat melakukan ini seorang Hindu harus mengetahui agama Hindu secara baik.

EMPAT HAL YANG TAK BISA KEMBALI


By: Shri Danu D.P

Seorang gadis muda menunggu penerbangannya di ruang tunggu sebuah bandara yang super sibuk. Karena harus menunggu berjam-jam, dia memutuskan membeli sebuah buku untuk menghabiskan waktunya. Dia juga membeli sebungkus kue. Dia duduk di kursi bersandaran tangan, di ruang VIP bandara, untuk istirahat dan membaca dengan tenang

Di sisi sandaran tangan di mana kue terletak, seorang laki-laki duduk di kursi sebelah, membuka majalah dan mulai membaca. Ketika ia mengambil kue pertama, laki-laki itu juga turut mengambil. Si gadis merasa gemas tapi tidak berkata apa-apa. Dia hanya berpikir:

“Lancang benar! Bila saya nggak sabaran sudah kugebuk dia untuk kenekatannya!”

Untuk setiap kue yang dia ambil, laki-laki itu turut mengambil satu. Ini sangatlah membuatnya marah namun si gadis tak ingin sampai timbul kegaduhan di ruang itu

Ketika tinggal satu kue yang tersisa si gadis mulai berpikir:

Aha…bakal ngapain sekarang orang yang nggak sopan ini?

Lalu, laki-laki itu mengambil kue yang tersisa, membaginya dua, lalu memberikan yang separuh padanya. Benar-benar keterlaluan…….! Si gadis benar-benar marah besar sekarang….!

Dalam kemarahannya, dia mengakhiri bukunya, dikemasnya barangnya lalu bergegas ke tempat boarding. Ketika sudah duduk di seat-nya, di dalam pesawat, dia merogoh tasnya untuk mengambil kacamata, dan…., dia sontak terkejut, sebungkus kuenya masih ada di dalam tas, tak tersentuh, tak terbuka! Dia merasa sangat malu!! Dia sadar telah keliru…

Dia lupa kalau kuenya masih tersimpan di dalam tas. Laki-laki tadi telah berbagi kue dengannya, tanpa merasa marah atau sengit …ketika si gadis amat marah, berpikir bahwa ia telah berbagi kue dengan laki-laki itu. Dan kini tidak ada lagi kesempatan untuk menerangkan kelalaiannya. .,juga untuk meminta maaf

Pesan Moril dari kisah ini…

Ada 4 hal yang tak dapat kembali:

Batu……setelah ia dilontarkan!

Kata……setelah ia diucapkan!

Kesempatan……setelah ia hilang!

Waktu……setelah ia berlalu!

Hai disana engkau yang baik, pernakah seseorang mengatakan seberapa spesialnya dirimu?
Cahaya yang engkau pancarkan bahkan serupa dengan cahya bintang.

Pernakah orang mengatakan pada dirimu betapa pentingnya dirimu mengembangkan rumangsanya.

Seseorang di sana menungging senyum di hati. Tandanya sayang yang begitu nyata.

Pernakah seseorang mengatakan padamu bahwa seringkali ketika mereka merasa sedih, e-mail-mu membuatnya sedikit tersenyum, sebagai tandanya ia senang.

Untuk waktu yang engkau gunakan mengirim pesan dan berbagi apa saja yang engkau temukan, tak perlu ada ucap balik terimakasih yang ditunggu, tapi setidaknya seseorang akan berpikir, mmm.. engkau sedang baik-baik saja.

Pernakah seseorang mengatakan seberapa sukanya ia padamu? Baiklah temanku yang baik, hari ini aku mau bilang padamu.

Bahwa aku percaya tanpa teman dan keluarga engkau akan kehilangan banyak hal!!!

Semoga harimu menyenangkan, dan saya senang kita berteman!!!

HOPE YOU HAVE A GREAT DAY

Manggalam Astu

Sekilas tentang Trisandya

OM Svastyastu,
SEKILAS TENTANG TRISANDYA
Jeromangku_sudiada@yahoo.com

Setelah sekian lama Trisandya diperdebatkan dalam HD-Net ini, khususnya mengenai bait yang kedua yang telah dipengal penterjemahannya yaitu : Tuhan yang Tak terlahirkan, Tuhan tidak ternodai, Tuhan tidak terpikirkan dan akhirnya cendrung dipelesetkan : “TUHAN TIDAK ADA” bersama ini perkenankanlah Mangku mengulas sedikit tentang Trisandya, yang sangat kental dengan hidup dan kehidupan kita khususnya yang beragama Hindu, dimana pemujaan Tuhan dengan kata-kata umunya dilaksanakan dengan sembahyang tiap-tiap hari, atau lazimnya dilakukan dengan sembahyang tigakali sehari yang sering disebut dengan istilah “PUJA TRISANDYA” Three = Tiga (3) Sandya = Kala / waktu. Jadi pemujaan yang dilakukan tiga kali sehari dalam kurun waktu tertentu, dipagi hari, siang hari dan sore hari.

Tehknis Puja Trisandya serta Tecks aslinya Mangku akan jelaskan pada kesempatan lain. Mangku akan menjelaskan secara universal purpose dari Trisandya itu mengandung tiga tujuan utama yang terdiri dari :

Bait Pertama dan kedua adalah merupakan ”PENGAJUM” atau memulyakan Bait ke III dan ke IV adalah merupakan ”STATEMENT” pernyataan diri Bait ke V dan ke VI merupakan ”HOPEFULLY” , khususnya permohonan maaf.

Mari kita mulai dari susunan mantram yang ada dalam Puja Trisandya.

Puja trisandya terdiri dari enam kumpulan mantram, mantram pertama disebut Gayatri mantram. Ritmenya-pun disebut dengan Gayatri, sedangkan irama-irama lainya misalnya Anustup, tristup, Canustup, Pragatah, Jagati, sedangka di Bali yang sering di iramakan oleh sulinggih adalah dengan Reng, Ritme Sloka (anak anak sekolah ) dan Cruti perhatikan di Bali TV bait I & II. agak beda dengan bait ke III dan seterusnya

1. Mantram Pertama Didalam Rg Veda III.62.10. Kata Bhur, Bvah, Svaha, tidak ada pada mantram ini, tambahan Bhur Bvah svaha ini didapatkan pada Yayur Veda Putih 36.3.

Gayatri Mantram adalah satu satunya mantram yang sering dilontarkan oleh Ide sang sulinggih, sedangkan yang lainnya adalah merupakan puja stava berupa sloka. Gayatri mantram sering disebutkan sebagai ibu dari semua mantram, atau yang paling mulya, dibawah ini Mangku cuplikan statementnya yang berbunyi sebagai berikut:

”One reason why the Gayatri is considered to be the most representative prayer in the Vedas is that cavable of possessing “dhi” higher intelligence which brings him knowledge, material and transcendental. What the eye is to the body “dhi” or intelligence is to the mind

Wijaksara Om adalah hurup atau prenawa suci dalam agama Hindu, dengan Om seorang brahmana mulai mengucapkan “SEMOGA SAYA SAMPAI PADA BRAHMAN” Savitar Tuhan yang maha mulia, kemuliaan sumber dari cahaya cemerlang marilah kita memusatkan pikiran kepada sumber cahaya, semoga ia memberi semangat.

2. Sloka yang kedua.
Dalam sloka ini pemuja memuja tuhan seluruh sekalian alam, Tuhan suci tidak ternoda, Ia hanya tunggal tidak ada yang kedua. Sloka ini adalah satu dari suatu rangkaian sloka yg panjang disebut dengan Catur Veda Sirah. Ini adalah salinan dari veda Narayanad upanisad, sebuah upanisad kecil. Supaya tidak penasaran Arti dari Bait ke II secara letterlijeknya adalah sebagai berikut.

Tuhan hanya ini, semua yang telah ada, dan yang akan ada, bebas dari noda, Bebas dari kotoran, bebas dari perubahan, tak dapat digambarkan yang maha suci Tuhan satu satunya tidak ada yang kedua.

3. Sloka yang ke III
Oleh Pemuja Tuhan yang tunggal, disebut dengan banyak nama, Iya disebut Siva, Mahadewa, Iswara, Prameswara, Brahman, Wisnu dan Rudra dan….. masih banyak lagi sebutan yang lainya.

4. Sloka yan ke IV. (statement )
Pemuja mengatakan pengakuan dirinya serba kurang, serba hina, serba lemah, Hina lahir dan bathin

5. Sloka yang ke V. ( Permohonan ampun ) Dalam sloka ini atas dosa, dosa, kekurangan dsbnya, pemohon memohonkan agar dilindungi dan dibersihkan atas segala noda.

6. Sloka yang ke VI ( Permohonan ampun dari dosa) Dosa yang keluar dari karya yang dilakukan, dari perkataan yang dilontarkan dan dari pemikiran memohon kepada Tuhan untuk diampuni.

Yah itulah yang Mangku bisa jelaskan dari Puja Trisandya semoga berkenan

Namaste.
MANGKU SUDIADA

Source :   HDNEt

JENIUS ADALAH 1 PERSEN INSPIRASI DAN 99% KERINGAT

“Thomas Alva Edison”
11 Februari 1847 – 18 Oktober 1931

Karena dianggap bodoh pada masa kecilnya, maka sejak usia 7 tahun Edison dikeluarkan dari sekolah oleh orang tuanya untuk belajar sendiri di rumah, dan pada usia 12 ia mulai berjualan koran dan buah-buahan di kereta api, sambil terus belajar secara mandiri melalui bahan bacaan buku dan percobaan-percobaan kecil di rumahnya.

Semenjak ia menjadi operator telegraf konvensional, pada tahun pertama ia bekerja, Edison sempat berkali-kali di pecat dari pekerjaannya karena kurangnya fokus pada tugas operasionalnya, karena ia sibuk membaca dan bereksperimen dengan peralatan yang menjadi tugasnya tersebut, dan hingga pada tahun 1870 Edison berhasil menemukan telegraf dengan fungsi yang terbilang sempurna pada masanya itu. Pada tahun 1874, ia berhasil mendirikan bengkel science untuk percobaan dan penelitiannya sendiri dan tahun 1877 ia menemukan gramofon.

Pada tahun 1879, setelah belasan ribu eksperimen yang ‘gagal’, ia menemukan sebuah cara yang berhasil untuk menyalakan lampu pijar yang berfungsi dengan sempurna, pesan yang selalu mengiringi keberhasilan ini adalah bahwa ia tidak melakukan ribuan eksperimen yang gagal, melainkan melakukan ribuan eksperimen yang mengantarkannya pada cukup 1 sukses besar, yang akan merubah dirinya dan kehidupan orang banyak sepanjang masa…

Edison memegang ribuan hak paten atas berbagai penemuan yang merubah dunia hingga hari ini, semuanya didasarkan pada ketekunan, kesabaran, keteguhan dan komitmentnya atas apa yang dipercayanya akan dapat diraih.

Berikut adalah Quotes Thomas Alva Edison yang terkenal:
“Jenius adalah 1 persen inspirasi dan 99% keringat”

Makrab KMH 2008

Om Swastyastu,

Teman2 kmh sedharma, hari jumat 24
oktober sampai minggu 26 oktober 2008
kmh bakal ngadain yang namanya malam
keakraban kmh 2008. Kegiatan ini
bertujuan untuk mengenalkan keberadaan
kmh binus dan juga perkenalan antar
sesama teman2 umat Hindu di kalangan
kampus khususnya.

Makrab ini akan diadakan di Puncak,
tepatnya di villa Graha Nusa Indah,
Cilember – Puncak. Selama 3 hari 2 malam
kita akan dapat menikmati suasana
kebersamaan antar sesama teman2 kmh binus.

Diharapkan sekali keikutsertaan kalian
semua ya….!

Pendaftaran bisa telp ke deco (33426633)
/ sukma (93292035) / komang (081807102720)

Suksma

Om Canti Canti Canti Om

Melajah mebasa bali

Ngiring Melajah Mebasa Bali

Kalimat dalam Bahasa Indonesia beserta artinya dalam Bahasa Bali

Sembilan Sepuluh Sebelas Duabelas – Siya Dasa Solas Roras

Lima Enam Tujuh Delapan – Lima Nenem Pitu Kutus

Satu Dua Tiga Empat – Siki Kalih Tiga Papat

Terima kasih banyak ya. – Matur suksma ping banget nggih.

Saya baik-baik saja. – Tyang becik-becik kemanten.

Apa kabar? – Punapi gatrane?

Apa nama daerah ini? – Napi wastan gumine niki?

Siapa nama anda? – Sira pesengan ragane?

Permisi…saya mau bertanya. – Nunas lugra…tyang jagi metaken.

Kamu sudah punya pacar? – Ragane sampun maduwe gagelan?

Jangan bicara begitu! – Sampunang ngeraos kenten!

Boleh saya lewat sini? – Dados tyang ngambahin meriki?

Permisi…saya numpang lewat. – Nunas lugra…tyang nyelang margi.

Selamat Hari Raya Galungan. – Rahajeng Rerahinan Galungan.

Di mana tempatnya Tanah Lot? – Ring dija genah Tanah Lot?

Boleh kurang nggak? – Dados kirang nggih?

Berapa harganya ini? – Aji kuda niki?

Saya mau pulang sekarang – Tyang jagi mapamit mangkin

Kamu kerja di mana? – Ragane ring dija makarya?

Mau pergi ke mana? – Jagi lunga kija?

« Older entries